Jakarta,jacktvnews.com
Sejarah bangsa Indonesia tidak pernah berhenti menulis tentang pemimpin-pemimpin berani yang melangkah melampaui zamannya.
Bukan sekadar membangun gedung atau proyek besar, tetapi membangun martabat dan karakter bangsa.
1. Bung Karno: Membangun Kebanggaan di Tengah Kekurangan
Ketika Presiden pertama Republik Indonesia, Ir. Soekarno, memutuskan membangun Monumen Nasional (Monas) dan Masjid Istiqlal, keadaan bangsa masih sangat sulit.
Indonesia baru beberapa tahun merdeka setelah 352 tahun dijajah Belanda dan Jepang.
Keuangan negara serba terbatas, infrastruktur rusak, politik penuh perpecahan, dan ancaman keamanan datang dari berbagai daerah.
Namun Soekarno tidak gentar.
Beliau justru membangun simbol kebanggaan nasional di tengah segala kesulitan itu.
• Monas dengan api yang menyala abadi dipuncaknya, melambangkan semangat perjuangan rakyat Indonesia, simbol kejayaan dan keabadian tekad bangsa.
• Masjid Istiqlal dibangun sebagai lambang kemerdekaan spiritual bangsa — sebuah rumah ibadah yang menunjukkan Indonesia bukan hanya merdeka secara politik, tapi juga berdaulat secara rohani.
Bung Karno tahu, bangsa yang baru merdeka memerlukan tanda kebesaran — bukan untuk sombong, tapi untuk menguatkan rasa percaya diri nasional.
Itulah sebabnya, beliau menanam nilai bahwa pembangunan besar bukan dimulai dari uang, tetapi dari keyakinan dan keberanian.
Banyak diantara anak bangsa yang tidak tahu, bahwa Monas baru diresmikan pada 1975, yaitu 10 tahun setelah Soekarno tidak lagi berkuasa.
Artinya, Presiden Soekarno membangun bukan untuk dirinya, tetapi untuk generasi setelahnya.
Ia tahu, bangsa yang besar harus punya simbol kebanggaan dan pusat keagungan moral.
Itulah caracter building pertama bangsa Indonesia: mengajarkan keberanian bermimpi di tengah kesulitan.
2. Jokowi: Yang diantarkan oleh PDIP, partai yang dipimpin oleh putri sulung bung Karno. Joko Widodo, melanjutkan pembangunan dengan Keberanian dalam Era Modern
Tujuh dekade kemudian, keberanian serupa muncul kembali dalam diri Presiden ke-7 Republik Indonesia, Ir. Joko Widodo.
Dengan gaya yang sederhana dan dekat dengan rakyat, Jokowi menghadapi tantangan besar: pandemi global, ekonomi dunia yang tidak menentu, dan politik nasional yang dinamis.
Namun di tengah situasi itu, beliau tidak berhenti melangkah, justru menorehkan dua proyek sejarah:
1. Membangun Ibu Kota Nusantara (IKN) —
Sebuah keputusan berani untuk memindahkan pusat pemerintahan ke Kalimantan Timur.
Ide ini sudah dibicarakan sejak zaman Soekarno, dan dikaji kembali oleh setiap presiden hingga Susilo Bambang Yudhoyono.
Tapi baru di tangan Jokowi-lah proyek besar itu diwujudkan.
Tujuannya bukan sekadar pindah kota, tapi mewujudkan pemerataan pembangunan yang Indonesia Sentris dan simbol transformasi peradaban bangsa.
2. Membangun Kereta Cepat Whoosh —
Kereta cepat pertama di Asia Tenggara, yang menghubungkan Jakarta–Bandung dalam waktu kurang dari 1 jam.
Bukan hanya proyek transportasi, tapi tanda kemajuan teknologi dan keberanian Indonesia berdiri sejajar dengan negara-negara maju.
Jika dilihat dengan jernih, ada benang merah yang kuat antara Soekarno dan Jokowi:
• Soekarno membangun simbol kebanggaan nasional (Monas dan Istiqlal).
• Jokowi membangun simbol kemajuan nasional (IKN dan Whoosh).
Keduanya lahir dari semangat keberanian dan cinta tanah air, bukan dari situasi yang ideal.
Soekarno berjuang di tengah kekurangan; Jokowi bekerja di tengah kritik dan tekanan.
Namun keduanya sama-sama melangkah dengan visi jauh ke depan — bukan sekadar untuk hari ini, tapi untuk 100 tahun Indonesia merdeka.
Jokowi, seperti Soekarno, memahami satu hal penting:
Bangsa yang besar tidak dibangun dari rasa takut, tapi dari keberanian untuk bermimpi dan bekerja keras mewujudkannya.
3. Dari Soekarno ke Jokowi, Kini Diteruskan Prabowo–Gibran
Kini tongkat estafet kepemimpinan nasional berada di tangan Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka.
Keduanya mewarisi semangat pembangunan berkelanjutan — melanjutkan visi besar Jokowi sekaligus menghidupkan kembali cita-cita Soekarno tentang kemandirian bangsa.
Prabowo–Gibran datang dengan agenda besar pembangunan manusia Indonesia seutuhnya, melalui:
• kedaulatan pangan, energi, dan pertahanan,
• pembangunan industri dalam negeri, dan
• penguatan karakter bangsa melalui pendidikan dan nasionalisme.
Apa yang dulu dimulai Soekarno dengan Monas dan Istiqlal,
dan dilanjutkan Jokowi dengan IKN dan Whoosh,
kini diteruskan oleh Prabowo–Gibran sebagai era penyempurna — era Indonesia Bangkit dan Mandiri.
4. Benang Merah Tiga Generasi Kepemimpinan
Jika kita melihat dengan jernih, tiga pemimpin ini membentuk garis merah sejarah yang sangat jelas:
Mereka berbeda zaman, tetapi memiliki jiwa patriotisme yang sama : berani bermimpi besar dan bekerja untuk bangsa, bukan untuk diri sendiri.
5. Penutup: Keberanian yang Membangun Peradaban
“Sejarah hanya mencatat dua jenis pemimpin: yang berani dan yang ragu.
Yang berani membangun, dikenang sepanjang masa.
Yang ragu, hilang ditelan zaman.”
Bung Karno menyalakan api keberanian itu.
Jokowi menjaga nyalanya dan membuatnya terang di abad modern.
Kini, Prabowo–Gibran ditakdirkan untuk menjaga api itu tetap menyala, menerangi masa depan Indonesia yang lebih maju, adil, dan berdaulat.
Kesimpulan saya :
Dari Monas ke IKN, dari Istiqlal ke Whoosh — semuanya bukan sekadar bangunan.
Itu adalah simbol keberanian bangsa Indonesia untuk terus melangkah maju, dengan kepala tegak dan hati merdeka.
HM. Darmizal MS, adalah Ketua Umum Relawan Joko Widodo untuk Pemenangan Prabowo dan Gibran


